Minggu, 07 Agustus 2016

Cerpen: PENTAS

Oleh: Dyah Umi Purnama

Sumber: www.Tjoret.net
Aku menatap wanita yang memakai kebaya tersebut. Sanggulnya  rapi,dengan hiasan bunga mawar plastik di atasnya.
Wanita itu muncul di hadapanku, ketika aku membuka pintu. Dia tersenyum padaku, lalu  menyanyi. Aku terkejut ketika mendengar sebuah tembang Dhandhanggula dinyanyikan dengan fasih.Mukanya sangat ekspresif saat menyanyikan lagu tersebut. Seakan sedang berada di sebuah pentas.
Ketika lagunya selesai, wanita itu menatapku sambil tersenyum lagi dengan anggun, seakan mengharap sebuah tepukan tangan meriah untuk suaranya yang adiluhung.
Aku kebingungan.Baru kali ini aku menjumpai seorang Sindhen yang mengamen di rumahku.Biasanya hanya anak-anak muda yang memainkan musik secara sembarangan, sehingga aku cuma menghargai mereka dengan uang recehan 500 atau 1000 rupiah.Sedangkan pada Sindhen ini, aku bingung, berapa aku harus menghargai tembangnya.

"Tidak usah memberiku apa-apa,"wanita itu seakan mengerti kebingunganku.
Aku hanya menyanyikan suara hati,"katanya lembut.

Dia kemudian berbalik, lalu melangkah meninggalkan rumahku.Aku masih terpana dengan kehadirannya, begitu juga dengan kepergiannya.
****
Pagi ini aku sebenarnya malas menunaikan tugasku.Sebagai seorang reporter sebuah televisi lokal, aku sebenarnya bosan dengan program televisiku yang kurang variatif.Hari ini aku harus meliput sebuah acara pengguntingan pita lagi.

"Janganlah cemberut.Hadapi hari dengan senyuman," goda Tris,kameramenku.

Menurutnya tidak mengapa kami meliput acara pengguntingan pita,asal setelah itu kami  mendapat makan-makan gratis dan amplop tebal.

Aku baru tahu setelah sampai di lokasi kalau kali ini kami harus meliput sebuah acara pengguntingan pita untuk meresmikan sebuah museum.

Seorang Hartawan yang peduli pada kebudayaan mendirikan sebuah museum wayang.Ini adalah sebuah acara yang cukup langka di kota ini.Biasanya mereka meliput acara pengguntingan pita untuk peresmian sebuah pertokoan,kantor atau sekolah.Rupanya masih ada orang yang peduli pada kesenian dan berniat melestarikannya.

"Saya ingin anak-anak kita tidak kehilangan obor kebudayaannya,"kata laki-laki gemuk tersebut dalam sesi wawancara. Butiran keringat membasahi dahinya.
Hartawan itu mengkoleksi aneka jenis wayang, dari wayang jemblung,wayang suket, golek dan tentu saja wayang kulit.Tris mengarahkan kameranya cukup lama pada koleksi wayang kulit.Dia kelihatan sangat tertarik, sepertinya dia sudah akrab dengan dunia wayang, gamelan serta perangkatnya itu.

"Kalau boleh tahu, wayang dan gamelannya dapat dari mana, Pak?"tanya Tris setelah sesi peliputan selesai.Dia kelihatannya sangat ingin tahu.

"Dari Dhalang Sastro, kasihan, dia sudah bangkrut dan sakit-sakitan, sehingga menjual perangkat wayangnya itu,” kata Hartawan itu ramah menjawab pertanyaan. Tris kelihatan agak menggumam.
***
Aku  berjumpa dengan wanita itu lagi  di pasar. Masih dengan dandanan yang sama,kebaya merah dengan selendang pink, dan selipan bunga mawar plastik  di sanggulnya.
Di depan sebuah kios, dia menyanyikan tembangnya dengan khusyuk.Beberapa tukang becak mendekat.Mereka menggodanya, dan menyuruhnya menyanyikan lagu Dhangdhut.
Wanita itu menolak permintaan para tukang becak.Rupanya dia tidak mau menyanyikan lagu lain, kecuali tembang Macapatan. Aku melihat pemilik kios hanya memberinya uang 500 rupiah.Wanita itu mengangguk hormat pada pemilik kios.Dia menerima rezekinya dengan penuh kesyukuran.Walaupun pemilik kios itu menghargai tembang Kinanthinya tak lebih sama dengan harga satu bungkus permen kojek yang dijualnya.
Dari seorang pedagang Sayur, aku kemudian tahu kalau wanita itu dulunya Sindhen Dhalang Sastro, yang kemudian dinikahinya setelah menceraikan  istri pertamanya yang sudah memberinya seorang anak berumur 10 tahun. Anak itu kemudian diasuh ibunya. Karena Sindhen itu tidak mau diganggu keasyikannya Nyindhen, dengan rengekan seorang anak kecil.
*****
“ Sekarang kayaknya sudah tidak ada orang yang hapal Tembang Macapatan.  Seperti   yang sering dinyanyikan Sindhen” gumamku, ketika aku dan Tris sedang makan siang di kantin kantor seusai meliput.

 “ Siapa bilang? Aku hapal hampir semua tembang Macapatan dalam pertunjukan Wayang,” tukas Tris.

Aku mendongak, menatap laki-laki berambut ikal  di hadapanku tersebut.Sudah 2 tahun mereka bersama sebagai patner kerja.Selama ini aku belum mengenalnya secara mendalam, termasuk kemampuannnya menyanyikan tembang Macapatan.

“ Tidak percaya? Aku bisa, walaupun tidak sebagus seorang Sindhen,”Tris kemudian rengeng-rengeng menyanyikan tembang Dhandhanggula. Aku terkejut, cukup fasih juga Tris menyanyikannya.

“ Aku pernah mendengar seseorang menyanyikan lagu yang sama,” tukasku. Aku lalu bercerita tentang wanita itu yang menyanyikan tembang Dhadhanggula yang sama saat dia ngamen di rumahku.

“ Jadi dia sekarang ngamen?” Tris kelihatan agak terkejut.
“ Kamu kenal dengannya?” aku bertanya penasaran, melihat sikap Tris. Tris terlihat mengencangkan rahangnya.

            Dia  diam, tak menjawab pertanyaanku. Aku jadi semakin ingin tahu. Kelihatannya ada pertalian antara Tris dengan wanita itu. Kenapa pula Tris tahu lagu-lagu Macapatan yang dikuasai oleh seorang Sindhen? Tapi Tris malah mengalihkan pembicaraan, rupanya dia tidak mau aku mengorek informasi tentang misteri wanita tersebut dalam kehidupannya.
****
Pada hari minggu berikutnya, aku sengaja pergi ke pasar lagi untuk mencari wanita tersebut. Aku menjumpainya sedang ngamen di sebuah warung. Bergegas aku ikut masuk ke dalam warung tersebut. Aku memesan 2 gelas es jeruk.
Aku membuka dompet dan mengulurkan uang 50000 rupiah  pada wanita itu, ketika dia nembang di hadapanku.Menurutku jumlah tersebut cukup layak untuk menghargai tembang Macapatnya.Wanita itu terkejut ketika menerima pemberianku.

"Ini terlalu banyak,mbak,"katanya lembut sambil mengembalikan uangku.Aku menggeleng, aku meminta wanita tersebut agar mau menerimanya.Aku bahkan menyuruh wanita itu untuk duduk bersamaku.
Aku ingin mentraktir minuman untuk wanita itu.Pasti tenggorokannya butuh sesuatu yang segar setelah dibawa mengeluarkan suara Sindhennya dari tadi.Wanita itu sejenak ragu-ragu, tapi kemudian dia bersedia menerima es jeruk yang disodorkan olehku.
Aku mengamatinya. Garis-garis kecantikan masih nampak di wajahnya. Umurnya juga aku taksir masih sekitar 40 tahunan.Tapi kesulitan hidup telah membuat mukanya tirus dan tubuhnya kehilangan kesegarannya.

"Orang-orang sekarang tidak menghargai tembang Macapatan,"keluhnya sambil menikmati esnya.
Aku tidak membantah pernyataan tersebut. Aku sudah melihat bagaimana para pendengar hanya menghargai tembang Macapatan wanita itu dengan uang 500 rupiah tempo hari.
Mungkin karena sekarang masanya sudah berubah. Tembang pop atau Dhangdut lebih enak terdengar di telinga, daripada tembang ‘berat’ seperti Macapatan.

"Mbak bisa menghargai tembang. Makanya aku sebenarnya tidak mau meminta bayaran dari mbak," katanya lembut.
Rupanya dia ingat pernah mendatangiku, dan memberinya tembang Dhandhanggula gratis.Dia senang pada orang-orang yang mau menghargai tembangnya.
            Tanpa diminta, wanita itu lalu menceritakan kisah hidupnya.Dari seorang Sindhen utama yang dipuja, saat dia berumur 18 tahun,menjadi Sindhen jalanan seperti ini.

"Suamiku sedang sakit.Aku tak tahu bagaimana cara mendapatkan uang, selain nyinden, walau di jalanan," dia berkata sambil menghela nafas.

Ada beban berat yang menganjal di dadanya. Matanya menerawang.Dia ingat ketika dengan bangga telah memenangkan hati seorang Dhalang, walaupun untuk itu dia telah menyebabkan seorang wanita lain tersingkir.

 “ Maaf, Bu. Apakah ibu kenal dengan Tris?” tanyaku, setelah wanita tersebut menuntaskan kisahnya. Wanita itu terlihat terkejut.
“ Tris yang mana ya? “ ucapnya cepat sambil menutupi kegugupannya.
“ Saya punya teman reporter namanya Tris. Kelihatannya kenal dengan Ibu dan Dhalang Sastro,” tukasku. Aku kemudian menceritakan tentang Tris.
“ Banyak orang yang kenal dengan kami, karena kami dulu pentas dimana-mana!” cetus wanita itu jumawa sambil menegakkan tubuhnya.

Aku bisa memaklumi sikapnya, sikap seorang mantan pesohor, yang yakin masih dikenal oleh semua orang. Tapi Aku tetap merasa mereka punya sebuah pertalian kisah, walaupun keduanya tidak mau menceritakan kepadanya.  Saat ini aku belum  berani mengorek lebih mendalam.

"Suatu saat aku ingin nyinden lagi. Di sebuah pentas! "tukas  wanita itu,  setelah termenung cukup lama.  Aku memandang wanita tersebut dengan terharu. Jiwa seni rupanya masih menggeliat walaupun di tengah keterpurukan.
Kami kemudian berpisah, setelah masing-masing menghabiskan segelas es jeruk.Wanita itu pergi dengan menggenggam uang 50000 yang kupaksa untuk menerimanya.
******
Sepulang meliput, Aku sengaja mampir ke Museum Wayang yang kini sudah dibuka untuk umum. Hanya dengan membayar 5000 rupiah,aku bisa menikmati aneka koleksi yang menggambarkan sejarah pewayangan di negeri ini.
Aku melihat-lihat ke bagian Wayang Kulit,  melihat perangkat Gamelan yang dulunya dimiliki oleh Dhalang Sastro. Gamelan itu    masih cukup bagus kondisinya. Sementara perangkat wayang lengkap dengan gunungannya juga ditata di depannya,  seperti siap digelar sebuah pertunjukan.
Aku duduk diantara gamelan tersebut. Dudukku sengaja kubuat menyimpuh seperti seorang Sindhen.Aku sedang menghayati bagaimana rasanya menjadi seorang Sindhen yang melagukan tembang-tembang Macapatan mengiringi sebuah pertunjukan Wayang.
 Aku memejamkan mata, terlihat lampu Blenchong dan gerak sang Wayang yang dikibaskan oleh Dhalang, kemudian suara Sindhennya menggema tunggal. Aku jadi bisa mengerti kenapa wanita itu merindukan untuk Nyindhen   lagi dalam sebuah pentas.   Pementasan akan membuatnya  menjadi  seorang Diva dalam sebuah pertunjukan. Hal yang mungkin tak bisa dia dapatkan dalam kehidupan nyata yang penuh dengan persoalan hidup.
*****
Aku mencoba mencari wanita itu  lagi ketika pergi ke pasar, aku ingin mentraktirnya minum lagi. Kemarin  aku lupa  menceritakan tentang  Gamelan suaminya  yang sudah berada di  Museum.
Mungkin itu akan bisa  sedikit mententramkan hati Sang Dhalang, bahwa Wayang dan Gamelan yang dicintainya, setidaknya kini  telah  menjadi simbol budaya, yang dapat digunakan sebagai  pembelajaran untuk anak cucu. 
Selain itu aku ingin  lagi mencoba mengorek hubungannya dengan Tris. Sejujurnya aku sudah mulai tertarik dengan lelaki berambut ikal tersebut. Aku ingin tahu lebih mendalam bagaimana kehidupannya, termasuk masa lalunya. 
Tapi wanita itu tidak aku temui, walau aku sudah keliling pasar. Dari penjual sayur yang kutemui, diperoleh informasi kalau memang sudah lama wanita itu tidak nampak nyindhen di pasar karena sakit suaminya yang bertambah parah. Aku  lalu berencana ingin pergi mencari rumahnya.

****
Pagi ini penuh aroma duka. Aku akhirnya bertemu  wanita  Sindhen itu, dan juga mengunjungi rumahnya. Tapi aku menemuinya dengan air mata yang menetes deras di matanya.  Air mata yang sama juga aku lihat meleleh dari sudut mata Tris.
Dhalang Sastro meninggal dunia, dan mereka adalah dua orang yang menangis paling dalam mengantar kepergiannya. Aku baru tahu kalau Tris ternyata adalah anak Dhalang Sastro, dari istri pertama yang disingkirkan, yang kemudian sudah terlebih dulu meninggal karena memendam sakit perasaan. Setelah ibunya meninggal, Tris kemudian diasuh oleh bibinya.
Sebelum jenazah diberangkatkan, ada sebuah ritual unik yang dilaksanakan atas permintaan Sang Dhalang.
Wanita itu memakai kebayanya, kali ini berwarna hitam. Rambutnya juga disanggul, tapi ditutup dengan kerudung hitam tipis. Dia berdiri di teras yang berundak tinggi  dengan keranda jenazah di sampingnya. Orang-orang berkumpul di halaman, dengan pandangan tertuju ke arah teras.  Ini seperti sebuah pentas. Dengan wanita Sindhen itu dan jenazah Dhalang Sastro sebagai pemainnya.
Kemudian terdengar suara yang melengking tinggi dan meliuk mendayu. Wanita itu menyanyikan sebuah tembang Megatruh untuk mengiringi kepergian suaminya. Suasana sangat khusuk, sampai di akhir tembang, ketika keranda jenazah itu kemudian diangkat untuk dibawa ke pemakaman.


“ Tadi itu adalah pentas Sindhenku yang paling hebat!” gumamnya puas ketika aku menyalaminya. 

Aku memandangnya terharu. Aku  melihat jiwa Sindhen tersebut sudah terbang mengikuti jenazah suaminya. **** 

Senin, 25 Januari 2016

Edukasi Gizi Anak Lewat Cerita: Mengintip Isi Buku Aku Anak Sehat


Judul: Cerita Anak Terbaik Sepanjang Masa Seri Aku Anak Sehat
Penulis: Dyah Umi Purnama
Ilustrator: Salestinus
Terbitan: Desember 2015
Jumlah halaman: 112 Halaman
Harga: Rp. 50.000,00
Tersedia: Di Toko Buku Gramedia dan Toko Buku lainnya


Hari ini hari Gizi Nasional lho tanggal 25 Januari 2016.

Saya mengucap syukur ke hadirat Allah SWT bahwa buku saya yang berjudul: CERITA ANAK TERBAIK SEPANJANG MASA SERI AKU ANAK SEHAT terbitan VISIMANDIRI-solo yang penuh muatan edukasi gizi sudah selesai proses cetaknya dan sudah didistribusikan ke seluruh toko buku Gramedia di seluruh Indonesia.

Tujuan saya menulis buku ini adalah untuk memberikan edukasi gizi lewat cerita kepada seluruh anak Indonesia. Mengingat bahwa buku edukasi gizi anak masih jarang ditemukan.

Masih banyak anak-anak yang kurang konsumsi makanan sumber vitamin. Penyebabnya diantaranya adalah karena kurangnya pemahaman anak terhadap nilai-nilai gizi yang terdapat di dalamnya.

Buku ini adalah Buku 7 in 1 karena berisi:
1. Cerita anak yang unik dan menarik
2. Pengetahuan vitamin pada anak
3. Akibat Kekurangan Vitamin
4. Anjuran kecukupan vitamin dan kandungan vitamin pada berbagai  sumber-sumber makanan
5. Resep masakan yang mengandung vitamin tinggi
6. Lembar aktivitas
7. Bonus Kartu Kwartet sumber-sumber vitamin

Jadi dalam satu bab berisi cerita yang dilanjutkan pengetahuan vitamin, anjuran kecukupan vitamin, kandungan vitamin pada berbagai sumber makanan dan resep masakan.



Baiklah, saya akan memberikan gambaran isi materinya ya,
1. Rabun Ayam Karena Suka Makan Mata Ayam ?


Ada seorang anak, bernama Dani yang sukar melihat di waktu senja, atau disebut Rabun Ayam. Saudaranya Lala mengira, keadaannya itu karena dia punya hobby suka makan mata ayam. Setelah mereka membaca buku Ensiklopedia kesehatan, mereka jadi mengerti kalau penyebabnya adalah karena Dani kekurangan vitamin A.

Setelah cerita dilanjutkan informasi tentang Vitamin A


Ada juga akibat karena kekurangan Vitamin A


Anjuran Kecukupan Vitamin A dalam sehari dan kandungan Vitamin A dalam bahan makanan


Ada juga resep Jus Mase yang tinggi vitamin A



2. Beri-Beri Tidak Sama dengan Biri-Biri


Dani memandang sepele ketika Lala mengatakan kalau ada orang yang terkena penyakit Beri-Beri. Dia malah bercanda kalau Beri-Beri itu karena orang suka mengembik di waktu pagi seperti Biri-Biri. Setelah temannya Sianipar mengatakan kalau Opungnya juga terkena penyakit Beri-Beri. Dani jadi mau membaca  Ensiklopedia bersama Lala. Dia kemudian tahu kalau Beri-Beri itu karena kekurangan vitamin B1 (Thiamin)

Seperti bahasan vitamin A, untuk bab ini juga diikuti Pengetahuan tentang Vitamin B1, Anjuran Kecukupan Sehari, kandungan Vitamin B1 dalam berbagai sumber makanan serta resep masakan tinggi vitamin B1.

3. Hii Kurang Darah karena Digigit Vampir ?


Saat  sedang menonton film Vampir, tiba-tiba hujan deras yang menyebabkan listrik mati. Fira jadi ketakutan sekali karena sosok Vampir selalu terbayang. Dia tambah ketakutan ketika temanya Nia yang baru saja berangkat setelah sakit mengatakan kalau dia tidak masuk karena sakit Kurang Darah. Fira mengira Nia digigit Vampir hingga kehabisan darah. Setelah mereka mencari informasi di perpustakaan mereka tahu kalau penyakit Nia adalah Anemia Macrocytic Megaloblastic karena kekurangan vitamin B12.

Seperti bahasan vitamin sebelumnya, untuk bab ini juga diikuti Pengetahuan tentang Vitamin B12, Anjuran Kecukupan Sehari, kandungan Vitamin B12 dalam berbagai sumber makanan serta resep masakan tinggi vitamin B12.

4. Ketika Awan Sakit Sariawan


Awan dikeluarkan dari latihan paduan suara karena suaranya yang aneh saat latihan dianggap merusak keselarasan suara Tim. Bahkan ada salah seorang temannya yang mengusulkan Awan untuk digantikan saja dengan yang lainnya. Awan sangat sedih, padahal dia sangat ingin masuk dalam tim paduan suara sekolah. Rosa yang baik hati lalu menemani Awan mencari info di perpustakaan. Setelah tahu kalau penyakitnya adalah Sariawan yang disebabkan kekurangan Vitamin C . Awan lalu rajin makan sumber vitamin C hingga sembuh.

Seperti bahasan vitamin sebelumnya, untuk bab ini juga diikuti Pengetahuan tentang Vitamin C, Anjuran Kecukupan Sehari, kandungan Vitamin C dalam berbagai sumber makanan serta resep masakan tinggi vitamin C.

5. Adik Bayiku Dijemur
Fina heran melihat Mamanya menjemur adik bayinya yang baru lahir. Masak adik bayi disamakan dengan bantal dan guling yang bau ompol sehingga harus dijemur. Setelah membaca buku yang dipinjamnya dari perpustakaan Fina baru tahu kalau adiknya dijemur agar mendapatkan cukup Vitamin D

Seperti bahasan vitamin sebelumnya, untuk bab ini juga diikuti Pengetahuan tentang Vitamin D, Anjuran Kecukupan Sehari, kandungan Vitamin D dalam berbagai sumber makanan serta resep masakan tinggi vitamin D.

6. Si Kulit Bersisik yang Pandai Memancing
Nino mengatakan kepada teman-temannya kalau kulitnya yang kering sehingga kelihatan seperti bersisik karena dia adalah keturunan Ikan yang Sakti. Teman-temannya banyak yang percaya. Tapi di depan Dani Nino mengakui karena sebenarnya bukan seperti itu. Dani lalu memberitahu Nino kalau kulitnya yang bersisik itu karena Nino kekurangan Vitamin E.

Seperti bahasan vitamin sebelumnya, untuk bab ini juga diikuti Pengetahuan tentang Vitamin E, Anjuran Kecukupan Sehari, kandungan Vitamin E dalam berbagai sumber makanan serta resep masakan tinggi vitamin E.

7. Awas Ada Sungai Darah
Lala kesandung dan kakinya berdarah. Dani menakuti kalau kondisi ini pasti karena Lala kekurangan Vitamin K , sehingga nanti akan dapat terjadi sungai darah. Salah satu akibat kekurangan Vitamin K adalah darah yang tidak bisa menggumpal. Lala sampai terbawa mimpi. Di dalam mimpinya dia tenggelam dalam sungai darah. Dia sampai dibangunkan Neneknya karena menjerit-jerit dalam tidur. Setelah tahu kalau lukanya mengering Lala jadi lega karena dia memang tidak mengalami kekurangan Vitamin K.

Seperti bahasan vitamin sebelumnya, untuk bab ini juga diikuti Pengetahuan tentang Vitamin K, Anjuran Kecukupan Sehari, kandungan Vitamin K dalam berbagai sumber makanan serta resep masakan tinggi vitamin K.

Setelah membaca cerita dan pengetahuan anak-anak dapat bermain mencari jejak




Ada juga bonus kartu Kwartet sumber-sumber vitamin pada makanan






Saya berharap anak-anak yang membaca buku ini dapat bertambah pengetahuannya tentang vitamin dan dapat menerapkannya, sehingga pola makannnya sehari-hari menjadi lebih baik dan sehat. ***

Selasa, 12 Agustus 2014

Pengalaman ASI Eksklusif II: Zaza



Sekarang saya mau posting pengalaman ASI Eksklusif untuk anak saya Hassya Mirza Andriyarni (Zaza).
Kalau  ASI Eksklusif zaza sekarang tidak banyak kendala yang berarti.

Awal Kelahiran
Saya melahirkan pada 8 Mei 2013. Kedua kali saya harus menjalani Operasi Caesar, setelah dokter mengkhawatirkan bahwa kemungkinan saya akan diinduksi 2 kali , karena ada kelainan otot rahim sehingga sulit pembukaan dan kontraksi kalau melahirkan normal. Sementara bila itu terjadi, maka otot rahim saya akan rusak. Maka ya sudah, pasrah untuk operasi lagi. Pada saat operasi dokter menemukan ada kista pada rahim saya, 10 cm, kista itu kemudian sekalian diangkat.
Setelah lahir, begitu masuk ruangan, zaza langsung diberikan pada saya. Alhamdulillah inisiasi menyusui dini lancar karena ASI langsung keluar. Yang jadi penunjang sebenarnya kakaknya, Shifa. Dia itu kan sampai sehari sebelum saya masuk Rumah Sakit Shifa masih nyusu ASI ke saya. Saya biarkan saja, dengan maksud supaya ASI tetap lancar, walaupun sebenarnya payudara agak sakit kalau menyusui saat hamil. Tapi anaknya yang tidak mau lepas juga. Efeknya memang ke arah lancarnya ASI begitu melahirkan, karena tidak terputus menyusui.
Bagusnya shifa begitu lihat adiknya, dia langsung bilang “ Ibu, sekarang Shifa tidak mau lagi nyusu ibu, susunya buat adek saja. “ Alhamdulillah, terimakasih , kakak shifa. Rupanya dia lalu timbul kesadaran bahwa ASInya harus gantian dengan adeknya.
 Terbukti ASI saya memang berkualitas untuk zaza karena pada bulan pertama zaza naik 1 kg. Rasanya puas sekali, karena itu berarti memang karena ASIku lah zaza berat badannya naik karena dia tidak makan makanan lain.

Masuk Kerja
Setelah 2 bulan melahirkan, seperti biasa, saya harus masuk kerja karena cuti Cuma 2 bulan, jadi pada bulan 8 Juli saya masuk kerja. Untuk zaza ini saya sudah menampung ASI sejak dari cuti. Alhamdulillah saat masuk kerja terkumpul ASI 25 botol  @ 100 ml !Untuk  cadangan saat kerja saya siapkan 3 botol. Bisa dibaca  cara menyimpan ASI perah. Saat pulang kerja, payudara sudah kencang, saya bisa memerah 2-3 botol. Pagi setelah bangun tidur saya memerah lagi 1 botol, jadi cadangan ASI untuk zaza mencukupi.
Bulan puasa
Pada saat bulan puasa , atas motivasi dari suami saya tetap puasa. Allhamdulillah, saya bisa menjalankan puasa penuh 1 bulan sambil tetap menyusui. Tapi pada bulan puasa ini saya harus usaha ekstra keras, karena selain berusaha tetap memerah, juga masih menyusui. Agar ASI tidak kering, maka saya hanya membatasi memerah 1 botol saat pulang kerja dan 1 botol saat bangun tidur, sementara zaza kebutuhannya 3 botol. Dengan demikian saya menghabiskan cadangan saat cuti hamil untuk menambah kebutuhan zaza.
Alhasil setelah lebaran, cadangan ASI saya benar-benar kosong. Untuk kebutuhan selanjutnya, saya Cuma mengandalkah perahan harian. Makanya saat hari sabtu saya berusaha tidak pergi-pergi supaya saat libur zaza minum langsung dan tidak mengambil ASI perahan.
Hasil Perahan Sedikit
Pada saat zaza 5 bulan, hampir 6 bulan, mulai timbul masalah karena ASI perahan jadi berkurang banyak jumlahnya, walaupun saya juga tetap minum dan makan banyak seperti biasanya. Kalau sebelumnya sepulang kerja saya bisa memerah 3 botol @ 100 ml, sekarang Cuma 2 botol @ 80 ml, ditambah bangun tidur kadang Cuma @ 50 ml.
Teman saya ada yang tragis, pada 5 bulan 2 minggu, ASI perahannya benar-benar kering, dia katanya Cuma bisa memerah 20-30 ml saja, tentu saja itu tidak cukup untuk kebutuhan ditinggal bekerja. Dengan sangat terpaksa, dia kemudian memutus ASI eksklusif, karena bayinya kelaparan, padahal dia sudah berjuang selama 5 bulan lebih! Sayang sekali.
Untungnya kondisi saya tidak separah itu. Kalau ASI tinggalan saya sedikit, maka saya berusaha mengerjakan pekerjaan di kantor lebih cepat, jadi sebelum jam 3 sudah sampai di rumah. Untungnya kalau Dosen kan lebih longgar jam kerjanya, asal saat itu tidak jam mengajar dan pekerjaan lainnya sudah selesai, boleh aja pulang duluan.
Sukses ASI Eksklusif !
Alhamdulillah pada 8 Nopember, saya berhasil menyelesaikan ASI eksklusif  untuk zaza. Itu berarti menjadikan saya sebagai satu-satunya di kantor yang berhasil menyelesaikan ASI eksklusif untuk sekaligus 2 anak ! Saya senang karena kesuksesan saya menjalankan ASI eksklusif dapat menginspirasi teman-teman saya. Terbukti ada 2 teman saya yang mencoba menjalankan ASI eksklusif, walaupun yang 1 putus di tengah jalan, tapi yang 1 Alhamdulillah sukses juga.
Semoga dengan memposting artikel ini saya juga bisa menginspirasi semua ibu cantik yang membacanya agar rela memberikan yang terbaik untuk bayinya. BRAVO IBU INDONESIA!


Pengalaman Sukses ASI Eksklusif: SHIFA



Saya mau posting ulang pengalaman-pengalaman ASI Eksklusif saya yang sudah saya publish di blog saya artikelgizikesehatan.blogspot.com tujuannya supaya pembaca blog saya yang baru ini juga bisa membaca dan semoga bermanfaat.

Saya Alhamdulillah sukses ASI eksklusif untuk 2 anak saya yaitu Shifa (4 tahun)  dan Zaza (1 tahun) . Kali ini saya mau posting pengalaman yang Shifa. Untuk mengetahui pengalaman ASI Eksklusif Zaza, silakan baca disini.

Awal Kelahiran

Sebenarnya saya sudah mempersiapkan untuk bisa melahirkan normal. Walaupun tidak kursus senam hamil reguler, suami saya sudah semangat membelikan beberapa VCD senam hamil untuk dicoba sendiri di rumah. Saat memasuki bulan ke-8 kehamilan,saya rajin setiap pagi jalan kaki keliling gang minimal 15 menit sehari,plus rajin ngepel sambil jongkok. Nenek saya juga sudah khusus mengirimkan Minyak Kelapa bikinan sendiri untuk diminum minimal 3 sendok seminggu. Pokok segala macam cara baik Medis maupun Tradisional yang katanya bisa melancarkan kelahiran sudah saya jalani.
Saat sudah 9 bulan, Dokter memperkirakan Hari Kelahiran adalah tanggal 12an.Tapi sampai mundur 1 minggu, anakku belum lahir juga. Padahal juga segala macam cara kita lsayakan,sampai pijet dan  minum jamu ”Sorog” dari Dukun Bayi dan mengunyah merica rela saya lsayakan,yang katanya bisa melancarkan kelahiran. Eh, bayiku masih anteng aja di dalam. Akhirnya waktu periksa lagi, Dokter mengambil keputusan untuk dipaksa lahir melalui Induksi, dan kalau terpaksa sekali melalui operasi Caesar.
Berhubung belum punya pengalaman melahirkan, saya tenang-tenang saja waktu udah masuk kamar Rumah Sakit untuk persiapan Induksi,karena belum ada rasa sakit sama sekali. Malah sebelumnya pagi-pagi jalan-jalan dengan suami ke Alun-alun dekat rumah sakit beli lontong opor.
Mulai diinduksi jam 8 pagi,obat induksi diberikannya lewat infus. Tadinya tidak terasa apa-apa,malah bisa tiduran sambil dengerin musik. Tapi kalau berbaring harus miring ke kiri,tidak boleh telentang. Setiap 15 menit dilsayakan pemeriksaan meliputi pengecekan infus dan detak jantung bayi. Saya sudah mulai merasa sakit melilit, hingga jam 12 siang tiba-tiba merasa ada sesuatu yang keluar melembung  dari bagian bawah, kemudian meletus menjadi cairan. Setelah diperiksa ternyata ketubanku sudah pecah. Tapi waktu diperiksa pembukaan baru 1 (paling ngeri waktu diperiksa pembukaan: Sakit!). Saya sebenarnya sudah putus asa, sementara infus sudah habis 1. Tapi suamiku memberi semangat, dia berharap dengan ketuban pecah, maka kelahiran mungkin sebentar lagi. Maka dipasanglah infus yang kedua. Sakit mulai saya rasakan, melilit-lilit sekali,ada yang bilang ini lebih sakit rasanya dari melahirkan normal. Tapi kenapa bayiku tidak mau bergerak sama sekali, hingga habis infus ke 2 jam setengah 8 malam. Jadi saya sudah menjalani induksi selama hampir 12 jam! Tidak ada jalan lain, terpaksa Operasi Caesar!
Operasi Caesar ternyata tidak menyeramkan yang selama ini diduga. Dokter dan stafnya malah santai, mengoperasi sambil ngajak cerita-cerita dan nyanyi! Mungkin juga supaya ibu yang dioperasi tidak tsayat dan tegang.  Saya masuk kamar operasi jam setengah 10 malam, jam 10an malam, anakku lahir, Alhamdulillah....

Tantangan Pertama : Di Rumah Sakit

Karena saya melahirkan Caesar, maka niat saya untuk melaksanakan Inisiasi Menyusui Dini tidak bisa dilakukan. Walaupun operasi dengan bius lokal, tapi karena malam hari, begitu lahir bayi langsung dibawa ke kamar bayi, sedang saya ke kamar rawat. Pagi-pagi baru bius lokalnya hilang. Jam 8 pagi bayi baru diserahkan kepada saya. Perawat bilang tadi malam belum diberi apa-apa, termasuk madu maupun susu formula, walaupun bayi sayi menangis terus, syukurlah...
Saya langsung coba untuk menyusui. Alhamdulillah saat itu sudah langsung keluar ASI, termasuk kolustrumnya.  Saya bersyukur bisa memberikan zat emas kolustrum yang mengandung zat kekebalan tinggi untuk bayiku. Ternyata memang benar-benar bermanfaat Perawatan Payudara yang rutin saya lsayakan sejak umur kandungan memasuki 8 bulan. Terbukti ASI bisa langsung keluar pada hari pertama melahirkan.
Tetapi karena awal menyusui, ASI yang keluar belum banyak, bahkan mungkin baru beberapa tetes setiap bayi menyusu. Bayiku jadi rewel dan sering menangis. Orang-orang mulai ribut memprovokasi untuk memberikan susu formula. Suami dan keluarga sebenarnya mendukung, hanya heran malah pihak Rumah Sakit yang ribut. Mungkin ini terkait dengan segi komersial, karena dalam paketan yang saya terima, diantaranya ada satu box susu formula untuk bayi umur 0-6 bulan ! Saya tetep kekeuh tidak mau anakku diberi susu formula, dan berusaha sering menyusui setiap dia menangis. Saya pernah baca literatur yang mengatakan bahwa awal kelahiran itu sebenarnya kantong pencernaan  bayi baru sebesar kelereng, jadi dengan beberapa tetes Kolostrum sudah cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Selain itu bayi masih bisa bertahan selama 3 hari awal kehidupan bilapun terpaksa tidak diberi apa-apa, karena membawa cadangan selama masa di dalam kandungan. Akhirnya saya berhasil melampaui tantangan 4 hari pertama di rumah sakit sampai kemudian kami dibawa pulang ke rumah.

Tantangan kedua: Payudara Luka dan Sakit!

Pulang dari rumah sakit, kami putuskan untuk sementara ke rumah mertua dulu, tidak langsung balik ke rumah kontrakan. Kami menyadari bahwa kami belum punya pengalaman mengasuh anak, jadi masih butuh bantuan dan bimbingan dari orangtua. Masalah muncul ketika payudara saya mulai luka sampai berdarah setiap menyusui. Sakitnya menikam sampai bawah punggung. Kadang muncul perasaan putus asa dengan tekad saya memberikan ASI eksklusif. Pernah suatu ketika saya mogok tidak mau menyusui waktu bayi saya nangis karena kondisi yang parah dari payudara saya.Suami sampai bingung dan  hilang akal. Dia sudah membuka box susu formula dari paketan dan siap memberikan susu formula untuk anak saya. Melihat hal itu, timbul perasaan tidak rela kedudukan saya  digantikan oleh Sapi! Maka anak langsung saya pegang lagi, dan sayapun menyusui sambil berurai air mata menahan pedih di dada dan punggung.
Untung sakit itu tidak terlalalu lama. Setelah 2 minggu, Alhamdulillah payudara saya sudah mulai bisa menyesuaikan dengan lidah bayi dan lambat-laun tidak merasakan sakit lagi.

Tantangan ketiga : Masuk Kerja

Setelah 2 bulan, selesailah masa cuti sehabis melahirkan dan saya harus masuk kerja lagi. Saya bertekad tetap memberikan ASI eksklusif untuk anak apapaun yang terjadi. Untung saya mendapat warisan beberapa botol kaca kecil dari sepupu suami yang juga sukses menjalankan ASI eksklusif. Maka saya mulai membaca-baca cara untuk memeras ASI. Alhamdulillah saat itu ASI saya sudah mulai lancar. Sebelum benar-benar masuk kerja saya setiap hari memeras untuk ditabung.
Pada saatnya saya berangkat sudah tersedia sekitar 10an botol ASI di freezer yang siap untuk diminumkan selama saya kerja. Rata-rata setiap hari Shifa saya tinggali 3-4 botol ASI. Ini juga tidak lepas dari kerjasama yang bagus dengan pengasuh Sifa. Saya bersyukur mempunyai pengasuh yang cekatan dan cepat tanggap dengan apa yang saya perintahkan. Dia juga mampu mengalihkan perhatian Sifa supaya tidak terfokus untuk minta minum terus. Jam 2an waktu pulang, biasanya payudara penuh, maka yang sebelah akan saya peras untuk cadangan esok, sedang yang sebelah saya minumkan. Demikian juga saat tidur, walaupun anakku tidak bisa lepas dari ”menthil” puting terus setiap tidur, saya punya trik supaya tida habis maka payudara sebelah saja yang diberikan, yang sebelah lagi untuk diperas paginya sebagai cadangan.

Tantangan Keempat : Ibu  Saya Masuk Rumah Sakit

Suatu sore, ada berita mengejutkan yang mengabarkan bahwa ibu saya masuk rumah sakit karena kecelakaan motor. Ibu sebagai pejalan kaki yang mau menyeberang ditabrak oleh pengendara kendaraan motor ugal-ugalan di depan rumah! Rumah saya memang pinggir jalan besar utama Jakarta-Semarang. Maka kamipun langsung pulang ke Kendal, termasuk dengan membawa Shifa. Ini perjalanan jauh pertama Shifa, umurnya waktu itu belum genap 3 bulan, dia harus menempuh perjalanan Purwokerto-Kendal. Alhamdulillah dia tidak nangis dan rewel. Ternyata ibu kondisi parah sampai koma, disamping patah kaki. Maka ibu kami rujuk ke Rumah Sakit Telogorejo di Semarang.
Saya bertekad untuk menunggui ibu. Maka kami lalu menyewa penginapan di dekat Rumah Sakit. Selama 10 hari saya dan Shifa menunggui Ibu di Rumah Sakit. Setiap pagi datang membezuk, sore atau malam baru pulang. Banyak juga yang menegur saya karena membawa anak kecil ke Rumah Sakit. Tapi saya tetap nekad demi ibu tercinta. Shifa seakan tahu dan pengertian. Walaupun berdekatan dengan orang sakit, tapi Shifa saat itu tidak pernah demam maupun sakit, sayapun Amazing dengan kekuatan anakku. Saya yakin ini adalah bukti keampuhan ASI eksklusif yang tetap saya berikan kepadanya.
Setelah 10 hari, saya dijemput oleh ibu mertua. Saya bersedia pulang karena mengira ibu kondisinya udah mulai membaik. Operasi kakinya sukses, tinggal terapi pemulihan. Tapi manusia tidak tahu rencana Allah. Selang 3 hari, saya mendapat kabar lagi kalau ibu Wafat ! Kamipun pulang lagi ke Kendal. Shifa sekali lagi menunjukkan kekebalan dan kekuatannya, dia tenang saja kami ajak mondar-mandir menempuh perjalanan jauh. Tetap ceria tanpa muntah atau demam. Terimakasih anakku sayang, kau adalah Pelita Ibu melampaui masa-masa terberat dalam hidup ibu. Saya sekarang yatim piatu, karena bapakpun sudah meninggal 6 tahun lalu.


Tantangan Kelima: Bulan Puasa

Saat bulan puasa ibu menyusui memang ada keringanan untuk tidak menjalankan puasa dan dapat menggantinya dengan puasa di lain waktu atau membayar Fidyah. Tapi suami saya memberikan motivasi yang kuat untuk tetap mencoba puasa. Kalau niat ibadah karena Allah, Insyaallah akan diberi kekuatan dan kemudahan,katanya. Memang saat hamilpun, waktu itu usia kehamilan 4 bulan, saya bisa lulus menjalankan puasa 30 hari penuh. Saat ini umur Shifa juga baru 4 bulan jalan,sekarangpun dengan mengucap Bismillah saya mencoba menjalankan puasa dengan tetap memberikan ASI eksklusif. Alhamdulillah, saya bisa menjalani dengan baik. Hanya bolong 1 kali  karena sehabis menempuh perjalanan jauh pulang menyelamati ibu di Kendal,  saya kasihan anak saya tidak cukup mendapat cairan sehingga saya membatalkan puasa dan minum sebanyak-banyaknya untuk anak saya. Dengan cukup makanan bergizi dan minum cairan sebanyak-banyaknya, saya juga masih bisa meninggali Shifa ASI perasan untuk diminumkan saat saya di tempat kerja.
Saya senang sekali dapat merayakan lebaran pertama bersama suami dan anak saya dengan predikat lulus puasa dan tetap ASI eksklusif!

Bulan Ke-6: Lulus!

Rasanya puas dan bangga tidak dapat digambarkan dengan kata-kata, saat Shifa merayakan Ulbul (Ulang Bulan)nya yang ke-6, dan saya lulus memberinya ASI Eksklusif. Ketika saya pasang status di Facebook tentang hal ini, ucapan selamat mengalir dari teman-teman saya. Di kantor saya kebetulan ada 2 orang yang hamil dan melahirkan hampir bersamaan dengan saya, dan saya satu-satunya yang sukses memberikan ASI Eksklusif selama 6 bulan penuh!Alhamdulillah...



Terimakasih ya.. Allah..Kau beri hamba kemampuan dan kemauan untuk memberikan ASI eksklusif pada putri hamba tercinta. Demikian pengalaman saya. Kalau Bunda semuanya punya pengalaman yang sama, silakan menulis di kotak komentar ya...**



Sebuah Awal: CERITA DAUN TEMBAKAU


Saya mau  cerita tentang daun tembakau.

Masih terbawa suasana gembira karena cerpen masuk sebagai finalis dalam Lomba Tulis Nusantara 2014, walaupun tidak masuk dalam 3 besar, membuat saya jadi berniat membuat blog pribadi khusus, setelah sebelumnya dengan blog artikelgizikesehatan.blogspot.com yang sudah berjalan hampir 5 tahun. Blog ini untuk menuangkan materi-materi kepenulisan saya.

Oche, capcusss..bagi yang penasaran dari isi cerpen non fiksi yang saya kirimkan di Lomba Tulis Nusantara, silakan dinikmati dan dikasih kripik (eh kritik) dan sarannya.


CERITA DAUN TEMBAKAU: Kesabaran dalam Proses Panjang


Ini cerita tentang daun tembakau. Saya sangat familiar dengan daun tembakau bukan berarti karena saya perokok, karena saya sebenarnya sama sekali tidak pernah mengisap batang rokok, tapi  lebih karena di daerah  asal saya Kendal merupakan salah satu sentra penanaman tembakau.
Walaupun sekarang saya tinggal jauh dari kota asal dikarenakan pekerjaan,  tapi kenangan tentang daun tembakau selalu terpatri di hati. Uniknya, ini bukan tentang bagaimana daun itu dihisap, tapi bagaimana tetangga-tetangga kami berjuang keras untuk menanam, memanen dan memprosesnya hingga siap masuk ke pabrik menjadi lintingan rokok.
Keluarga kami sebenarnya  bukan petani, bapak saya punya sawah, tapi biasanya digarap orang lain karena beliau bekerja sebagai guru. Tapi saya hidup dalam lingkungan dimana kebanyakan tetangga-tetangga kami ikut terlibat dalam hiruk-pikuk menanam tembakau, sehingga saya akrab dengan kegiatan itu. Kata bapak saya sudah sejak lama sekali daerah kami menjadi sentra penanaman tembakau, mungkin sudah lebih dari 1 abad, tembakau kendal terkenal merupakan tembakau yang cukup berkualitas. Hal ini karena tanah di daerah kami sebagian besar kering, sehingga tidak cocok ditanami padi, komoditas yang cukup menjanjikan satu-satunya adalah tembakau.
Ada istilah khas selama proses itu mulai: mbibit, nandur, nyiram, ngeleb, Ngepek, ngruwek, ngimbon, ngrajang, nganjang, sampai mepe , malik dan madahi mbako.
Kegiatan memproses daun tembakau ini sarat dengan nilai , terutama nilai kegigigan dan kesabaran. Mungkin tak pernah terbayang bagi penikmat rokok betapa panjang proses yang harus dijalani oleh petani untuk mengolah daun-daun tembakau itu hingga sampai ke mulutnya.
Diawali dengan mbibit yaitu membuat bibit tembakau. Bibit diambil dari biji tembakau kualitas terbaik yang disemaikan di atas bedengan. Ada petani yang menamam bibit sendiri, ada juga yang beli dari petani yang khusus mengelola pembibitan. Setelah 1 bulan mulai tumbuh daun-daun kecil, siap untuk dipindahkan ke sawah, yaitu mulai nandur. Sejak bibit ditanam di sawah selama 3 bulan petani harus rajin menyiramnya agar bibit itu tumbuh dengan baik. Ini juga musim banyak job bagi penggali sumur. Biasanya petani membuat 3-4 sumur baru di sawahnya untuk memperlancar proses nyiram.
Tapi karena biasanya tembakau ditanam di musim kemarau, maka kadang sumur kering, sehingga ada petani yang melakukan ngeleb yaitu menggunakan bantuan pompa penyedot air untuk membanjiri sawah. Tujuannya agar tanah bisa terbasahi dan bibit tumbuh dengan baik. Yang diinginkan  petani saat nandur adalah hujan, tapi gerimis saja, sehingga cukup hanya membasahi. Kadang saat musim tidak menentu, tiba-tiba turun hujan besar, maka sering terjadi bibit-bibit banyak yang hanyut. Kalau demikian maka harus diulangi proses penanaman bibit lagi, petani jadi rugi.
Kalau tanaman sudah mulai tumbuh besar, petani malah mengharapkan jangan turun hujan, karena daun-daun itu akan berkualitas baik kalau panas . Kalau hujan terus nanti Mingsrinya tidak banyak. Mingsri adalah getah tembakau. Biasanya kalau daun itu dipegang maka tangan kita akan lengket hitam terkena Mingsri. Mingsri banyak adalah tanda kalau daun tembakau kualitasnya bagus.
Setelah 5 bulan dan daun lebar-lebar, mulailah panen tembakau. Daun yang pertama dipanen adalah daun yang paling bawah dulu, baru nanti beranjak daun yang paling atas, biasanya beberapa kali tahapan Ngepek mbako (ngambil tembakau). 
Waktu kecil  saya  sangat menikmati saat musim tembakau tiba. Terutama dengan aktivitas ngruwek. Ini adalah aktivitas yang memberi peluang seorang anak untuk memperoleh uang sendiri. Hal ini karena para  petani membutuhkan bantuan banyak orang untuk membantu menggulung daun-daun tembakaunya. Semua orang boleh ikut, termasuk anak-anak. Dulu ada tembangan tersendiri bagi para anak saat Ngruwek.
Eee...Mbakone Teko (Eee.. tembakaunya datang)
Eee...gelarke klasa ( Eee dipasangkan tikar)
Eee..klasane bolong (Eee..tikarnya sobek)
Eee..ditambal gemblong (Eee.. ditambal gemblong/panganan dari ketan)
Eee..gemblonge mambu ( Eee..gemblongnya basi)
Eee...pakake Asu (Eee.. diberikan anjing)
Eee..asune mati... (Eee..anjingnya mati)
Eee..buang neng kali (Eee..dibuang ke sungai )
Hore.....
Tembangan ini sahut sahutan diantara anak-anak yang Ngruwek sehingga kegiatan ini menjadi gayeng dan rame. Walaupun tidak ada yang tahu siapa pencipta tembang itu karena sudah dinyanyikan secara turun temurun saat musim tembakau tiba.
Para tukang Ngruwek dibayar per 10 gulungan. Untuk satu  gulungan biasanya berisi 15- 20an lembar. Kalau daunnya lebar, diambil dulu sebagian tulang daunnya, ini yang namanya Ngruwek, yaitu merobek tulang daun tembakau. Setelah ditumpuk kemudian digulung dan diikat dengan tali yang terbuat dari pelepah pohon pisang yang diiris panjang-panjang dan dikeringkan, era berikutnya tali pelepah pisang diganti tali rafia  biasa karena lebih mudah didapat dan praktis.  Kalau yang ahli Ngruwek,  dia bisa menghasilkan 100-200 gulung seharinya. Saya sendiri paling pol cuma bisa menghasilkan 20 gulung karena tidak begitu tahan dengan bau tembakau, tapi tetep gembira saat menerima uang hasil jerih payah. Resiko Ngruwek adalah tangan jadi hitam lengket kena Mingsri, ini hanya bisa dihilangkan dengan melumuri tangan  dengan minyak goreng, kemudian digosok dengan pelepah batang pisang.
Setelah  daun tembakau digulung kemudian mulai ngimbon, yaitu menyimpan gulungan di para-para, biasanya 3-5 hari sampai daunnya berwarna kekuningan. Lalu tibalah saat Ngrajang. Ngrajang dilaksanakan malam hari, biasanya mulai jam 12  malam sampai pagi hari, tergantung banyak sedikitnya gulungan yang dirajang. Alatnyapun khas, yaitu terbuat dari kayu dengan lobang untuk memasukkan gulungan. Tukang ngrajang ini perlu keahlian khusus, karena dia harus mampu menebas daun-daun tembakau menjadi rajangan kecil dan tipis dengan menggunakan bendo (sabit besar) yang tajam dengan  tempo cepat tanpa melukai jarinya. Rajangan daun tembakau yang menggunung di bawah perajang segera diambil untuk dianjang. Nganjang adalah proses menata rajangan daun tembakau diatas Rigen  yaitu papan persegi yang terbuat dari anyaman bambu . Tukang nganjang biasanya adalah ibu-ibu, jumlahnya 2-4 orang. Mereka dan Tukang Rajang harus mampu tahan kantuk semalaman karena praktis mereka tidak boleh tidur selama kegiatan ini berlangsung.
Saat pagi menjelang, mulailah proses mepe, yaitu menjemur rajangan tadi di bawah terik matahari. Biasanya memanfaatkan halaman yang luas atau lapangan desa. Nanti pada saat dhuhur alias matahari tepat di atas kepala , mereka harus malik mbako, yaitu membalik rajangan, yang bawah ke atas. Caranya dengan bantuan 1 Rigen lagi. Biasanya 2 orang bawa Rigen kosong, kemudian Rigen tersebut ditutupkan diatas Rigen yang ada rajangan, kemudian dibalik sehingga sekarang yang menjadi tempat adalah Rigen yang baru, sementara Rigen lama dibawa untuk membalik Rigen sebelahnya, begitu seterusnya. Proses penjemuran ini 3-5 hari tergantung cuaca.
Kalau rajangan sudah benar-benar kering, dilanjutkan proses madahi mbako (memasukkan tembakau) ke dalam keranjang. Keranjang tembakau juga khas, yaitu terbuat dari pelepah pohon pisang yang telah dikeringkan dan ditata di dalam keranjang bambu. Katanya kalau tempat tembakau bukan di keranjang ini, maka tidak akan sedap baunya.
Sampailah pada akhir proses, karena setelah rajangan tembakau dimasukkan dalam keranjang, maka petani tinggal tunggu pembeli yang akan membeli tembakaunya. Kadang calo sudah mulai menawar pada saat tembakau dijemur, bahkan ada juga yang menawar saat tanaman masih belum dipanen, sehingga terjadilah sistem ijon.
Kalau sebelumnya, masih dikenal  istilah “ Bodo Mbako”, yaitu Lebaran Tembakau, merupakan pestanya petani tembakau biasanya  pada bulan Agustus-September. Pada bulan itu biasanya tingkat hidup masyarakat di desa saya menjadi makmur karena harga jual tembakau yang tinggi, ditandai dengan banyaknya yang memakai perhiasan emas! Saya masih ingat waktu kecil melihat teman-teman sepermainan saya esoknya tiba-tiba memakai gelang dan kalung emas dibelikan orangtuanya setelah panen tembakau.
Tapi 10 tahun terakhir ini harga tembakau banyak yang dipermainkan calo, atau perusahaan rokoknya. Akibatnya banyak petani merugi karena ongkos yang harus dikeluarkan untuk proses yang panjang itu lebih besar daripada keuntungannya. Saya  sangat perihatin kalau mendengar tetangga-tetangga saya mengeluh bahwa panen tembakaunya ambruk, dan jadi merugi.
Tapi mereka tidak menyerah, tahun depan tetap gigih menanam tembakau. Dengan harapan yang tinggi hasil yang lebih memuaskan, maka proses panjang menanam daun tembakau  dijalani  lagi dengan penuh kesabaran .
Kabar terakhir dari kampung halaman, tahun ini, katanya terkait dengan disahkannya PP 109  tahun 2012  tentang pengamanan produk tembakau  oleh pemerintah yang membuat penanaman tembakau diawasi dengan ketat, bahkan cenderung dilarang, maka sekarang sudah sedikit yang menanam tembakau. Sebenarnya mereka agak kebingungan. Petani kemudian banyak yang beralih menaman jagung. Dulunya dalam 1 tahun setelah menanam tembakau mereka memang menanam jagung. Jadi sekarang sepanjang tahun terus-menerus menanam jagung. Hasil panen jagung, biasanya tidak sebanyak panen tembakau.
Walaupun saya sebenarnya setuju dengan maksud baik pemerintah untuk melindungi kesehatan masyarakat dengan mengurangi produksi tembakau, tapi sayang belum ada persiapan oleh pemerintah di tingkat petani untuk pengalihan komoditas yang sama menguntungkan. Bisa dibayangkan, mereka harus melakukan perubahan yang sudah berjalan lebih dari 1 abad tanpa tuntunan yang pasti. Harapannya adalah  pemberlakuan PP tersebut tidak mengakibatkan sebagian taraf hidup masyarakat menjadi turun.
Mungkin ini sudah takdirnya tradisi tembakau di kampung halaman saya perlahan berakhir. Semoga saja ditemukan komoditas pengganti yang lebih menghasilkan dan menyehatkan. Tapi saya yakin kegigihan dan kesabaran petani di daerah saya akan tetap terjaga, apapun komoditas yang ditanamnya. Kisah  daun tembakau ini akan sering saya ceritakan pada anak-anak saya, terutama kenangan tembang dolanan saat Ngruwek, supaya mereka mengenal  riwayat budayanya dan kesabaran panjang untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan. ***




Memanen tembakau


Kegiatan Ngruwek


Ngimbon

Ngrajang


Nganjang



Malik Mbako

Tembakau dalam keranjang